Virus Corona Pukul Ekonomi China

Kamis, 6 Februari 2020

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Wabah virus corona memukul aktivitas ekonomi China. Tercatat, telah ada lebih dari 560 jiwa meninggal dunia dan lebih dari 28.000 jiwa terkonfirmasi positif virus mematikan.

Kekhawatiran akan penyebaran virus corona ini pun tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan, tapi juga mengakibatkan aktivitas ekonomi di China terpukul.

Mengutip BBC, Kamis (6/2/2020), berbagai perusahaan besar di China seperti di sektor restoran, bioskop, penyedia transportasi, hotel, dan toko dikabarkan menjadi yang paling terdampak kerugian komersial.

Hal ini karena banyak orang memilih menghindari aktivitas di luar untuk mengamankan dirinya dari ancaman corona, termasuk para pekerja. Alhasil, banyak perusahaan yang menghentikan kegiatan operasionalnya.

Meski operasionalnya dihentikan, tapi perusahaan harus terus membayar gaji para pekerjanya. Ditambah, produsen di luar negeri juga kini enggan membeli barang dari China. Keuangan sejumlah perusahaan jadi terguncang.

Selain itu, beberapa maskapai di luar negeri telah mengisolasi China dengan menghentikan penerbangannya. Serta jaringan hotel internasional meminta pengembalian uang ke China.

Karena virus corona ini juga, produsen Mobil dari Korea Selatan, Hyundai juga telah menghentikan produksi mobilnya karena pasokan suku cadang di China terganggu. Padahal sebelumnya, China merupakan pemasok utama industri motor global ini.

Sementara pada sektor industri lain, minyak mentah mencapai titik level terendahnya. Ini telah turun sekitar 15% dalam dua minggu terakhir. Sekelompok negara pengekspor minyak kini sedang mempertimbangkan pengurangan produksi dalam upaya membalikkan penurunan harga.

Pasar Modal Anjlok

Virus Corona telah membuat dana sebesar US$ 445 miliar atau setara Rp 6.112 triliun (asumsi Rp13.728 per US$) kabur dari pasar modal China. Hal ini terjadi saat pembukaan kembali perdagangan saham China usai libur Imlek.

Dilansir dari CNN, awal pekan ini, indeks Shanghai turun 7,7 persen. Penurunan ini menjadi yang terburuk sejak Agustus 2015. Saat itu, indeks Shanghai bergejolak akibat kekhawatiran perlambatan ekonomi China. (au)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *