Sikapi Dampak Covid-19, Para Menteri Ekonomi ASEAN Terapkan Kebijakan Stimulus Ekonomi

Rabu, 11 Maret 2020

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Merebaknya virus Corona (Covid-19) yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, kini telah meluas hingga ke 77 negara, termasuk negara-negara ASEAN. Hal tersebut menyebabkan gangguan pada ekonomi Tiongkok yang berdampak terhadap rantai pasokan global.

“Negara-negara ASEAN telah menerapkan sejumlah kebijakan untuk menstimulus ekonomi terkait dampak dari Covid-19, antara lain diberikannya insentif pajak untuk sejumlah bisnis di sektor pariwisata, penerbangan, dan hotel untuk mendorong sektor pariwisata,” ujar Wakil Menteri Perdagangan RI, Jerry Sambuaga saat mewakili Menteri Perdagangan RI pada Pertemuan Para Menteri Ekonomi ASEAN dalam format retreat (AEM Retreat) ke-26 di Da Nang, Vietnam, Rabu (10/3).

Sektor logistik, pariwisata, dan perdagangan yang terkena dampak paling besar dari Covid-19 akibat larangan sejumlah pemerintah untuk melakukan perjalanan ke luar negeri dan penutupan perbatasan bagi negara yang terjangkit virus tersebut. Hal ini berdampak langsung pada negaranegara ASEAN di sektor ekonomi dan pariwisata.

Saat ini, tercatat 21,5 persen wisatawan mancanegara di ASEAN berasal dari Tiongkok. Pada 2018, bisnis perjalanan berkontribusi sebesar 12,6 persen pada ekonomi ASEAN. Isu Covid-19 ini juga dapat berdampak pada sektor perdagangan, khususnya ekspor dan impor. Sebagian bahan baku untuk industri di Indonesia masih dipasok dari negara Tiongkok yang mengalami kesulitan untuk ekspor karena kasus Covid19.

Wamendag menyatakan, ASEAN perlu merespons dampak Covid-19 dengan selalu memperhatikan kondisi masyarakat. Saat ini, transparansi dan efektivitas menjadi penting untuk memastikan kepercayaan publik dan pelaku usaha.

“Indonesia mendorong upaya untuk memperkuat kerja sama ASEAN untuk meringankan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat ASEAN, khususnya melalui sejumlah upaya, seperti mendorong upaya forum bertukar informasi penangangan Covid-19 dan mengkaji dampaknya terhadap ekonomi di kawasan ASEAN,” tegas Wamendag Jerry.

Selain membahas dampak Covid-19, pertemuan AEM Retreat ke-26 juga membahas sejumlah isu penting, antara lain terkait dampak perang dagang AS dan Tiongkok, serta dampak Brexit. Perang dagang antara kedua negara tersebut telah berlangsung sejak 2018 karena AS mengalami defisit neraca perdagangan, khususnya dengan Tiongkok, sehingga menaikkan sejumlah tarif secara unilateral.

“ASEAN berisiko mengalami pelemahan ekonomi dan perdagangan akibat kebijakan perang dagang tersebut mengingat AS dan Tiongkok merupakan mitra dagang dan investasi utama bagi ASEAN,” ungkap Wamendag Jerry. Di samping membahas perekonomian ASEAN yang terkena dampak dari beberapa kasus, para Menteri Ekonomi ASEAN juga membahas rencana penandatanganan ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Type Approval for Automotive Products (APMRA) yang akan diadakan pada Agustus 2020, dan mendiskusikan perkembangan isu-isu komitmen kerja sama perdagangan ASEAN, antara lain prioritas ekonomi ASEAN pada keketuaan Vietnam tahun 2020 dan ASEAN Wide Self Certification Scheme.

Para Menteri Ekonomi ASEAN juga membahas review Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN-India yang akan diinisiasi setelah penyelesaian Perundingan RCEP. Hal ini akan memberikan sinyal positif kepada India bahwa India tetap menjadi mitra dagang penting bagi ASEAN.

Di samping pembahasan peningkatan ekonomi antara ASEAN dengan India, para Menteri Ekonomi ASEAN juga membahas rencana peningkatan liberalisasi Perjanjian Perdagangan ASEAN-Korea Selatan yang telah menjadi mandat para Kepala Negara/Pemerintahan ASEAN dan Korea Selatan.

Di akhir pertemuan, para menteri juga membahas rencana fact-finding mission yang dijadwalkan pada awal Juni 2020 ke Timor Leste terkait rencana aksesi Timor Leste ke ASEAN, khusus pada bidang ekonomi. (udy)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *