Akan Dilepas ke Pasar, Harga Vaksin Virus Corona Berkisar Rp 200.000 – 550.000

Jumat, 7 Agustus 2020

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM  – Beberapa raksasa farmasi diketahui telah mengumumkan rencananya untuk meningkatkan produksi. Sementara yang lain, seperti dilansir Times of India, sudah menandatangani kesepakatan dengan negara lain untuk pemesanan vaksinnya.

Vaksin dari Oxford, Moderna Inc, yang sedang mengerjakan peluncuran prototipe mereka, mRNA-1273 dalam beberapa bulan mendatang. Baru-baru ini mereka mengumumkan akan menawarkan vaksinnya kepada publik, dengan harga berkisar US$ 32 – 37 atau setara Rp 469.000 – 542.000.

Pihak perusahaan mengatakan, penetapan harga akan dilakukan dengan mempertimbangkan aksesibilitas, dan akan sejalan dengan harga “penetapan harga pandemi”, yang menyiratkan bahwa vaksin akan dijual dengan harga murah selama masa krisis.

Di sisi lain, Oxford telah mendapatkan dana untuk meningkatkan produksi. Namun, para peneliti tidak bisa menahan diri untuk mengomentari kesenjangan mengenai harga vaksinnya. Serum Institute, yang akan memasarkan produk ini di India berkomentar bahwa vaksin tersebut akan dijual dengan harga kurang dari Rp 200.000.

Pfizer, yang telah menandatangani pakta dengan pemerintah AS juga mengumumkan bahwa mereka akan membatasi harga produknya di bawah Rp 300.000 dan akan tersedia untuk umum.

Demikian  semua kandidat vaksin yang ada di seluruh dunia, vaksin dari Universitas Oxford, yaitu Moderna Inc., Cansino Biologics dan Pfizer BionTech, memimpin sementara dalam perlombaan.

Sementara semua vaksin tersebut telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dan aman dalam uji klinis awal. Satu kekhawatiran besar yang dipikirkan oleh para ahli adalah mengenai harga dan distribusinya.

Sebelum vaksin disetujui untuk disebarkan secara massal, ada banyak pertanyaan tentang distribusinya. Akankah vaksin tersedia untuk semua orang? Apakah akan ekonomis? Akankah perusahaan mendapat keuntungan dari distribusi vaksin, karena mereka berjanji akan memproduksi jutaan dosis vaksin?

Sementara di Indonesia, vaksin asal China, Sinovac, mulai pekan depan memasuki masa uji klinis. Sebanyak 900 calon relawan yang sudah terkumpul di database tim penelitian uji klinis vaksin. Tim peneliti yang dikepalai Profesor Kusnandi Rusmil dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung.

Dalam enam bulan, ada lima kali pengujian terhadap relawan dan di tiap pengujian, efek vaksin terhadap relawan akan diamati. Untuk uji klinis yang dimulai pada 11 Agustus mendatang , tim peneliti menetapkan sejumlah syarat pada relawan.

Enam hingga tujuh bulan ke depan, bila lancar, vaksin dinyatakan aman bagi manusia, maka Bio Farma, sebagai produsen vaksin akan memproduksi dalam dua tahap. Pertama, 100 juta vaksin, dan kedua 150 juta vaksin. (au)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *