Percepat Penetrasi Buah Tropis ke Tiongkok, Kemendag Gelar Business Matching Virtual Buah Naga

Oleh rudya

Senin, 10 Agustus 2020

Jakarta, MINDCOMONLINE.COM – Pandemi Covid-19 tidak menghalangi langkah Kementerian
Perdagangan mendorong percepatan penetrasi produk potensial buah naga ke pasar Tiongkok.
Guna menjajaki peluang kerja sama perdagangan buah naga, Kemendag menggelar kegiatan
penjajakan kesepakatan dagang secara virtual bertajuk the First Indonesia-China Dragon Fruits
Online Business Matching 2020 pada Kamis (6/8).

Pada penyelenggaraan acara tersebut, Kemendag bekerja sama dengan Kedutaan Besar RI di
Beijing, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Keuangan. Menteri Perdagangan Agus
Suparmanto sangat mengapresiasi sinergi antarlembaga negara dan kementerian ini yang sangat
penting diaplikasikan terutama dalam kondisi saat ini.

“Memulihkan ekonomi dan meningkatkan ekspor terutama dalam masa pandemi saat ini
merupakan pekerjaan besar sehingga sinergi berbagai pihak mutlak diperlukan. Strategi masingmasing lembaga/kementerian akan berkontribusi mengantarkan produk potensial Indonesia
dipasarkan di luar negeri,” ujar Mendag Agus.

Sedangkan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Kasan yang membuka
kegiatan tersebut mengatakan, program ini adalah langkah gerak cepat pemerintah menanggapi
dibukanya akses bagi produk buah-buahan tropis Indonesia ke Tiongkok.

“Buah naga menjadi salah satu produk yang diandalkan masuk ke pasar global karena mudah
diterima hampir di seluruh belahan dunia. Namun, dibutuhkan upaya percepatan dalam
merealisasikan ekspor perdana buah naga Indonesia ke Tiongkok. Untuk itu, begitu Tiongkok
membuka akses pasar, kita harus langsung cepat tanggap mendorong ekspornya. Semoga
kegiatan bussines matching ini membuahkan hasil yang positif,” ujar Kasan.

Business matching virtual ini dihadiri lima eksportir buah naga Indonesia yang telah teregistrasi di
Tiongkok, enam eksportir yang akan diregistrasi, dan perusahaan lainnya. Mereka dipertemukan
dengan 26 importir anggota China Agricultural Wholesale Markets Association (CAWA). Di
hadapan para importir anggota CAWA, eksportir dan perusahaan Indonesia memaparkan
keunggulan buah naga Indonesia seperti rasa yang manis, daya tahan yang lama, serta memiliki
masa panen yang berbeda dengan Tiongkok. Kegiatan virtual ini membuahkan potensi
penandatanganan kesepahaman antara 3 eksportir dan importir, yang akan ditindaklanjuti lebih
jauh dengan komunikasi antara kedua belah pihak.

Kasan menyatakan, dengan diterimanya buah naga Indonesia di pasar Tiongkok, maka menambah
deretan produk buah tropis Indonesia yang sudah terlebih dahulu masuk ke pasar Tiongkok,
seperti salak, manggis, kelengkeng, dan pisang.

“Pemerintah Indonesia mengharapkan ke depannya akan lebih banyak lagi buah tropis Indonesia
yang dapat masuk ke pasar Tiongkok, seperti nanas dan durian. Diharapkan, kinerja ekspor
Indonesia ke Tiongkok juga akan terdorong terus positif,” tegas Kasan.

Berdasarkan data BPS, ekspor produk nonmigas Indonesia ke Tiongkok selama periode Januari–
Juni 2020 tercatat USD 12,82 miliar atau meningkat 11,9 persen dibandingkan periode Januari–
Juni 2019 yang sebesar USD 11,46 miliar.

Sementara itu, permintaan dunia terhadap buah naga selama periode 2015–2019 tumbuh positif
sebesar 7,51 persen, dari USD 2,84 miliar pada 2015, menjadi USD 3,67 miliar pada 2019. Ekspor
produk buah naga Indonesia ke dunia terus meningkat setiap tahunnya dengan tren positif
sebesar 12,91 persen dalam lima tahun terakhir dari USD 145 ribu pada 2015 menjadi USD 208
ribu pada 2019. Meningkatnya konsumsi buah naga di dunia salah satunya karena banyak
komunitas Asia dan diaspora Indonesia dan Tiongkok di seluruh dunia yang konsisten
mengonsumsi makanan dan bahan makanan asal negaranya masing-masing, serta
mempromosikan kuliner dan makanan tersebut kepada masyarakat setempat di tiap negara.

Kasan juga mengungkapkan pentingnya pemulihan ekonomi Indonesia di masa pandemi Covid-19.
Menurut Kasan, pemulihan aktivitas ekonomi dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi dari
masing-masing mitra dagang dengan menjalin kerja sama yang lebih erat, salah satunya
perdagangan bilateral Indonesia-Tiongkok. Terlebih lagi, saat ini merupakan momentum perayaan
ke-70 tahun terjalinnya hubungan diplomatik kedua negara.

“Penyebaran Covid-19 memberikan dampak berupa perlambatan aktivitas perdagangan global.
Indonesia dan Tiongkok menyadari perlu mengambil langkah tepat untuk menangkal perlambatan
ekonomi tersebut, salah satunya melalui kerja sama perdagangan,” tandas Kasan.

Kasan juga menekankan pentingnya menjaga optimisme di tengah kondisi perdagangan
internasional yang terkena imbas pandemi Covid-19. Hal ini supaya Indonesia tetap dapat mencari
peluang kerja sama baru dengan berbagai mitra dagang di dunia. (dya)

Silakan baca juga

Genjot Produksi Udang di 2024, KKP Siap Berkolaborasi dengan Kementerian Lain

Mendag Zulkifli Hasan: Perempuan Kunci Indonesia Maju

2024,  Produksi Keramik di Indonesia Diperkirakan Capai 625 juta m2 

Leave a Comment