Ini Pos Ukur Ulang Emas Pertama di Indonesia

Jumat, 16 Oktober 2020

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – JMenteri Perdagangan Agus Suparmanto meresmikan pos ukur ulang emas pertama di Indonesia yang berada di Kelurahan Kranggan, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (15/10). Peresmian ini merupakan bentuk komitmen pemerintah melindungi
konsumen. Dengan adanya pos ukur ulang, konsumen dapat mengecek kembali hasil pengukuran
dari transaksi emas yang dilakukan.

Turut mendampingi, Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Veri Anggrijono dan Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Pravarta Sadman.

Keberadaan pos ukur ulang emas ini difasilitasi Kementerian Perdagangan dengan didukung Dinas
Perdagangan kota Semarang dan Asosiasi Pedagang Emas dan Permata Indonesia (APEPI)
Semarang.

“Ukur ulang merupakan salah satu cara konsumen untuk mengecek kembali kesesuaian kuantitas
atau berat suatu produk/barang. Keberadaan pos ukur ulang menjadi penting dalam menjamin
ketepatan hasil pengukuran dalam transaksi perdagangan emas,” jelas Mendag.

Emas, lanjut Mendag, merupakan komoditas yang mempunyai nilai dan harga tinggi. Bila hasil
penimbangan tidak akurat, konsumen akan merugi. “Penting bagi pemerintah untuk menjamin
kebenaran hasil penimbangan ini sebagai jaminan perlindungan konsumen,” tegas Mendag.
Mendag juga mengapresiasi semua pemilik toko emas di Semarang yang telah tertib dalam
meneraulangkan neraca emas dan timbangan elektronik yang digunakan dalam transaksi niaga.
Ucapan terima kasih juga disampaikan Mendag kepada Dinas Perdagangan Kota Semarang yang
telah menyosialisasikan dan memberikan pelayanan tera ulang kepada para pedagang perhiasan
dengan gencar.

“Hal ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, baik pedagang selaku pemilik alat ukur,
takar, timbang dan perlengkapannya (UTTP) maupun Dinas Perdagangan Kota Semarang selaku
pihak yang berwenang dalam melakukan tera/tera ulang alat UTTP,” ujar Mendag.

Kemendag melalui Direktorat Jenderal PKTN memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan
dalam rangka melindungi konsumen terhadap barang yang tidak sesuai dengan ketentuan dan
penggunaan alat UTTP. Hal tersebut tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang
Metrologi Legal.

Sebelumnya, Rabu (14/10), dilakukan pengawasan alat UTTP di pertokoan emas di
wilayah Kranggan, Semarang. Hasilnya, sebagian besar timbangan elektronik dan neracanya sudah
memiliki tanda tera sah yang berlaku. Selain itu, ditemukan timbangan elektronik di beberapa toko
emas dengan merek ACS dan CHQ yang tidak memiliki izin tipe/tanda pabrik, serta tidak bertanda
tera yang digunakan untuk perdagangan. Namun, kedua alat UTTP tersebut telah diamankan.
Secara berkala, Veri menjelaskan, akan dilakukan pengawasan di toko-toko emas. “Pelaku usaha
emas diharapkan tidak lagi menggunakan alat ukur yang peruntukkannya bukan untuk emas,”
imbau Veri. (udy)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *