Kemendag Tingkatkan Kemampuan Analisis Pasar Ekspor

Kamis, 19 November 2020

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Kemampuan analisis data sangat penting dalam melihat dan
memanfaatkan peluang pasar ekspor. Dengan kemampuan analitik yang baik, para pelaku usaha
dapat menyaring dan memprioritaskan pasar ekspor dengan lebih baik dan dapat mengidentifikasi
peluang ekspor baru.


Untuk itu, Kementerian Perdagangan berupaya meningkatkan kemampuan analitik pelaku usaha
dengan menggelar lokakarya “Improving Trade Analysis Capacity” yang berlangsung pada
16–27 November 2020 secara daring. Sebanyak 61 peserta berasal dari Kementerian
Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dewan Atsiri Indonesia, dan Swiss
Import Promotion Programme (SIPPO) yang menangani perdagangan internasional, statistik,
promosi perdagangan, dan perumusan kebijakan perdagangan.

“Data merupakan hal yang penting dan berharga dalam pengambilan keputusan dan untuk
melihat peluang ekspor ke pasar tertentu. Namun, ketersediaan data perlu didukung kemampuan
menganalisis data. Hal ini menjadi kunci untuk menembus pasar ekspor ke negara lain,” jelas
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kasan.

Lokakarya terselenggara atas kerja sama Kemendag dengan KKP, Dewan Atsiri Indonesia, SIPPO,
dan ITC. Dalam lokakarya tersebut, para peserta berlatih dan belajar menggunakan alat analisis
pasar yang dikembangkan International Trade Center (ITC), seperti Trade Map, Market Access
Map, Export Potential Map, serta Sustainability Map. Alat analisis tersebut dapat diakses tanpa
biaya melalui marketanalysis.intracen.org.

Hal senada disampaikan Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Marolop Nainggolan dalam
sambutannya. “Data merupakan hal yang penting dan berharga dalam pengambilan keputusan
dan untuk melihat peluang ekspor ke pasar tertentu. Melalui lokakarya tersebut, diharapkan
peserta dapat menganalisis data, statistik perdagangan, investasi asing, bahkan tarif bea cukai,
peraturan akses pasar, dan standar yang diperlukan bagi produk Indonesia yang akan diekspor,
dengan berbagai alat dari ITC dengan lebih jelas, tajam, dan efisien,” jelas Marolop.

Marolop juga mendorong peserta agar dapat memanfaatkan lokakarya ini dengan sebaik-baiknya.
“Pada akhir program, peserta diharapkan dapat menyaring dan memprioritaskan pasar ekspor
dengan lebih baik dan dapat mengidentifikasi peluang ekspor baru,” pungkasnya.

ITC adalah pusat penerus informasi perdagangan internasional yang bertujuan untuk membantu
pelaku usaha di seluruh dunia dalam mengembangkan ekspor. Didirikan pada 1964,

ITC merupakan badan gabungan antara World Trade Organization (WTO) dan Perserikatan BangsaBangsa (PBB) melalui United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD). Lebih dari 100 juta pengguna dari 224 negara dan wilayah telah mendaftar ITC dengan mengakses
marketanalysis.intracen.org. (rdy)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *