Industri Pengolahan Karet Didorong Produktif dan Berdaya Saing

Kamis, 10 Desember 2020

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen mendorong sektor industri pengolahan karet agar semakin produktif dan memiliki daya saing serta mampu melakukan diversifikasi produk dengan terus memacu program hilirisasi produk karet. Hal ini didukung potensi Indonesia yang menjadi produsen karet alam terbesar kedua di dunia.

“Kontribusi sektor industri pengolahan karet nasional terhadap perolehan devisa mencapai US$ 3,422 miliar  pada 2019. Saat ini, terdapat 163 industri karet alam dengan serapan tenaga kerja langsung sebanyak 60.000 orang,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Raha, Rabu (9/12).

Doddy menyebutkan produksi karet alam pada 2019 mencapai 3,3 juta ton, yang meliputi SIR (crumb rubber),lateks pekat, dan RSS (ribbed smoked sheet).

“Dari jumlah tersebut, masih perlu dioptimalkan lagi pemgolahannya di dalam negeri, yang saat ini telah meliputi produk hilir seperti ban, karet vulkanisir, alas kaki, rubber articles, serta manufacture rubber goods (MRG),” ungkapnya.

Pemerintah juga terus berupaya untuk meningkatkan harga karet alam. Langkah ini untuk mendongkrak kesejahteraan petani karet, penghasilan perusahaan karet dan nilai ekspor.

“Peningkatan penyerapan bahan baku oleh industri dalam negeri melalui program TKDN serta melakukan diversifikasi produk turunan karet, bisa menjadi salah satu upaya yang kita lakukan,” papar Doddy.

Upaya lain yang perlu ditempuh, misalnya melalui diplomasi internasional dengan negara-negara produsen dan konsumen karet alam dalam komunitas International Tripartite Rubber Council (ITRC) dan The Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC).

“Pada 2019, tiga negara, yakni Thailand, Indonesia, dan Malaysia yang tergabung dalam ITRC, sepakat untuk menerapkan instrumen Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) untuk mengurangi ekspor karet alam guna meningkatkan harga komoditas ini di pasar dunia,” imbuhnya.

Pihaknya melalui Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristand Industri) Palembang juga siap mendukung hilirisasi karet alam melalui program penelitian, pengembangan inovasi, konsultasi, penjaminan kualitas produk, dan pelatihan transfer teknologi industri khususnya Jambi dan provinsi penghasil karet lainnya.

“Baristand Industri Palembang memiliki teknologi yang siap untuk dimanfaatkan oleh calon wirausaha, contohnya ban pejal kursi roda, rubber tips untuk tongkat pasien, shock dumper, selang gas LPG, bantalan conveyor, karet otomotif, karpet, tegel, alas kaki dan paving block karet,” sebut Kepala Baristand Industri Palembang, Syamdian

Baristand Industri Palembang juga sedang mengembangkan teknologi pengolahan lateks menjadi karet keperluan medical device.

“Pada akhirnya hasil litbang prototipe barang karet sudah techno-proven dan economically feasible untuk diadopsi ke tenant,” ujar Syamdian. Bahkan, Baristand Industri Palembang juga siap menjadi Techno-Incubator dan Quality Assurance bagi pelaku industri di dalam negeri.

Sementara itu PT Bukit Asam (Persero) sebagai salah satu perusahaan pertambangan nasional menyatakan bahwa produk hilir berbasis karet sangat dibutuhkan oleh industri pertambangan.

Senior Manager PT Bukit Asam (Persero) Bambang Sigit Sumartono mengatakan kebutuhan rata-rata belt perusahaan per tahun untuk produk berbasis karet dapat mencapai 13.000 m yang digunakan pada jalur conveyor dan unit mesin. Berikutnya, kebutuhan Rubber Wave untuk Return Idler sebanyak 1285 ea yang digunakan pada jalur conveyor sebagai tumpuan belt. Laging Pulley 90 set digunakan sebagai media penggerak dan tumpuan belt conveyor. Kebutuhan rata-rata side rubber per tahun mencapai 65 roll.

“Sedangkan kebutuhan rubber H yang digunakan sebagai insert flexible coupling belt drive adalah sebanyak 600 ea per tahun dan ban alat berat sebanyak 539 ea per tahun,” katanya. (ki)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *