KKP Tanam 1000 Bibit Indigofera dan Salurkan Benih Ikan di Wilayah Sumatera

Rabu, 3 November 2021

Jakarta, MINDCOMMONLINE.COM – Luncurkan Ekonomi Biru, Laut Sehat, Indonesia Sejahtera, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang bertepatan dengan HUT KKP ke-22, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) melalui Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam Jambi menanam 1.000 bibit indigofera dan menyalurkan bantuan benih ikan sebanyak 838.000 ekor. Indigofera merupakan salah satu tanaman yang dijadikan bahan baku pakan mandiri.

“Produksi perikanan budidaya harus terus kita kembangkan, guna memenuhi kebutuhan pangan dan menggerakkan ekonomi nasional. Selain itu margin atau keuntungan di level pembudidaya tersebut juga dapat ditingkatkan lagi, salah satunya melalui Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari),” tegas Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu.

Pasalnya, pakan menjadi salah satu komponen terpenting dalam kegiatan usaha budidaya ikan. Oleh karenanya, produksi pakan ikan selalu menjadi salah satu program prioritas KKP untuk mendukung peningkatan produksi serta keberlanjutan usaha budidaya di masyarakat. Apalagi Indonesia kaya akan bahan baku lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan. Seperti pemanfaatan tanaman Leguminosa atau dikenal dengan Indigofera. Beberapa referensi menyebutkan, Indigofera mengandung protein nabati sekitar 28,59% serta kandungan nutrien lainnya yang bagus untuk pertumbuhan ikan. “Saya berharap terus bermunculan pakan-pakan mandiri yang di dalam pembuatannya menggunakan bahan baku lokal,” harap Dirjen yang biasa disapa Tebe.

Tebe menambahkan jika pembudidaya mampu memproduksi pakan dan benih ikan secara mandiri, pembudidaya bisa untung lebih besar. Tentunya ini sejalan dengan salah satu program terobosan KKP di subsektor perikanan budidaya yaitu pengembangan kampung perikanan budidaya yang berbasis pada kearifan lokal serta berkonsepkan Ekonomi Biru, Laut Sehat, Indonesia Sejahtera.

Kepala BPBAT Sungai Gelam, Boyun Handoyo, juga mengatakan sejalan dengan konsep ekonomi biru yang digaungkan oleh KKP, dimana pembangunan perikanan budidaya harus memperhatikan keberlangsungan usaha dan dampak ekosisitem sekitar maka dari itu, BPBAT Sungai Gelam melakukan penanaman pohon bibit indigofera untuk bahan baku pakan mandiri serta menyalurkan benih ikan.

“Kami lakukan pembibitan untuk perbanyakan Indigofera ini sebagai salah satu alternatif bahan baku pakan ikan yang ke depannya diharapkan bisa mensubstitusi kedelai dan sumber protein lain,” ujar Boyun.

Upaya ini, sambung Boyun, sebagai wujud konsistensi dalam mengembangkan bahan pakan alternatif berupa tanaman Indigofera sebagai bahan baku pakan sumber protein nabati ini. “Ke depannya kami akan kembangkan secara massal di masyarakat, dari yang sudah tertanam dikembangkan lebih banyak lagi. Kami bekerjasama dengan masyarakat harapannya nantinya bisa lebih berkembang dan menjadi industri,” sambungnya.

Selain itu, lanjutnya lagi, BPBAT Sungai Gelam Jambi menargetkan kebun pohon Indigofera bisa menjadi ajang diseminasi dan sosialisasi secara luas bahwa ada bahan baku alternatif yang dapat dikembangkan. “Dengan gerakan bahan baku pakan lokal diharapkan masyarakat bisa mendapatkan pakan ikan secara mandiri, sehingga keuntungan juga meningkat,” ujarnya.

“Dengan kegiatan ini kami juga berharap BPBAT Sungai Gelam dapat menjadi pelopor pakan mandiri berbasis bahan baku lokal yang ada di Indonesia, kita akan kembangkan untuk awalnya di Sumatera ini khususnya di sekitar lokus kampung-kampung ikan sebagai program terobosan dari KKP,” tukasnya.

Selain itu sebagai informasi, BPBAT Sungai Gelam juga menyalurkan dukungan langsung input produksi bagi pembudidaya ikan skala kecil selama bulan Oktober kemarin agar produksinya tetap berjalan di tengah wabah Covid-19. Dukungan tersebut berupa benih ikan sebanyak 838.000 ekor antara lain benih ikan lele, benih ikan patin PUSTINA, benih ikan nila, dan benih ikan gurami Batanghari. Bantuan benih ikan tersebut diserahkan kepada pembudidaya yang berada di Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Lahat, dan Kabupaten Penukal Abab Lematang Lir, Provinsi Sumatera Selatan, dan Kabupaten Bangka Selatan dan Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

(rdy)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *